Selasa, 27 Mei 2014

Aku ingin berhenti !

Hari dimana kita bertemu
Kau tersenyum...
Hal itu yang tak bisa kulupakan
Mungkin seumur hidupku
Kau selalu bercerita...entah apa ?!
Setauku..aku selalu tersenyum saat mendengar suaramu
Setauku... aku bahagia setiap memandangmu
Aku takut, Kau melakukan hal yang sama kepada semua wanita yang kau temui
Itu tandanya... hanya aku yang tertarik padamu
Dan aku salah mengartikan semuanya
Buatlah aku berhenti jatuh cinta pada orang lain lagi
Aku lelah patah hati 
aku terlalu sering ditinggal pergi
Aku lelah berkelana
karena....
Aku ingin berhenti dihatimu saja

Jumat, 11 April 2014

Cerita untuk Risa



Tak hanya kamu ,Risa. Aku kini juga berada di alam Sunyaruri. Alam kekosongan. Sendirian itu menyenangkan. Tapi jika terlalu lama sendiri itu bisa berubah menjadi kesepian. Semuanya yang ku inginkan sudah Tuhan wujudkan untuk aku. Termasuk kuliah di kota ini. Tapi aku selalu ingin kembali ke masa dimana aku selalu semangat bangun pagi untuk bertemu dengan teman-temanku. Seberat apapun bebanku dulu..aku selalu senang menjalaninya. Tapi kini teman-temanku sedang mengejar mimpinya masing-masing. Aku merasa kehilangan. Tapi Risa... hidup tanpa mereka bukan berarti aku tak punya teman baru. Di kota tempat aku tinggal sekarang membuatku berkenalan dengan banyak orang. Tak semuanya buruk Risa... diantaranya baik padaku. Tapi mengapa aku tetap merasa kesepian? Aku pikir aku tak hanya kehilangan teman-temanku.Aku kehilangan sesuatu yang tak bisa diungkapkan. Yang aku sendiri tak tau mengapa aku begitu sedih saat menyadari semuanya.Dan parahnya lagi Risa... muncul banyak orang baru dalam hidupku yang memperburuk keadaan. Aku pikir tadinya orang ini bisa membuatku tak kesepian lagi. Dan dia berkata bahwa dia akan menyayangiku. Aku lupa Risa jika dari awal dia hanya mencoba menyayangiku. Hanya mencoba. Dan aku sudah terlanjur menyayanginya terlebih dahulu. Aku lupa bahwa ini Cuma perjanjian. Konyol sekali bukan. Dan saat dia meninggalkanku... aku menjadi lebih kosong dari sebelumnya. Jujur Risa ...aku hanya butuh seseorang untuk mendengar keluh kesahku tanpa memojokan aku. Tak peduli entah itu laki-laki atau perempuan. Aku hanya butuh teman bicara Risa ! Sangat butuh. Aku melupakan masa depanku. Semuanya meredup. Tak ada lagi semangat seperti dulu. Aku sendiri tak tau sampai kapan aku akan terus seperti ini ? Menjauh dan menjadi orang lain yang sama sekali bukan aku. Ini sangat menyiksa. Aku ingin pulang. Tapi setiap aku pulang ke rumah aku tak merasa puas. Mungkin maksudku aku ingin pulang ke rumah Tuhan. Tapi tidak Risa...aku bukan orang yang sebodoh itu ! Aku selalu mengingat orang tuaku yang membutuhkanku. Aku pikir aku belum cukup membahagiakan orang tuaku dengan hanya duduk di bangku kuliah tanpa gelar sarjana. Aku yakin orang tuaku ingin melihatku memakai toga. Melihatku bekerja. Melihatku menikah dengan orang yang menyayangiku. Menemani hari-hari tuanya. Tapi bagaimana bisa aku seperti ini setiap hari ? Sedangkan orang tuaku sangat berharap pada seorang aku yang pengecut. Aku bersyukur masih ada teman yang selalu mengajaku makan bersama tanpa aku harus makan sendirian. Yakinlah Risa... makan seenak apapun jika sendirian itu menjadi biasa saja. Tapi... tak hanya makan,aku butuh seseorang yang menemaniku melihat pertunjukan tari, menonton konser band indie, dan teater. Kota ini sangat indah di malam hari. Banyak yang bisa dikunjungi Risa. Semoga aku cepat bertemu dengan orang yang bisa menemaniku melakukan hal-hal yang tak hanya aku sukai tapi juga dia.. Bicara soal teman... sepertinya menyenangkan berteman dengan makhluk selain manusia. Membaca bukumu membuatku berpikir hal-hal yang selama ini kutakuti. Kau bilang... mereka hanya butuh di dengar bukan ? Aku ingin sekali bertemu teman-temanmu juga. Tapi Risa...aku selalu takut menatap mata mereka yang dingin. Namun dari bukumu membuatku sadar..bahwa mereka bukan untuk ditakuti. Sosok Ain ,Mara dan Dara yang lucu dan polos. Aku ingin mempunyai teman-teman kecil sepertimu. Yang saat kau tumbuh dewasa mereka tak ikut tumbuh bersamamu, mereka tetap saja kecil dan menggemaskan. Andai saja aku mempunyai keberanian mengajak mereka bicara sepertimu. Kau hebat Risa ! Semoga teman-temanmu cepat kembali ya Risa. Agar kau tak kesepian sepertiku. Juga aku. Semoga akan segera kutemukan seseorang yang membawaku keluar dari alam Sunyaruri yang menyiksa ini. Perjalananku sungguh masih panjang Risa... Aku harus kembali semangat mewujudkan mimpi-mimpiku. Semoga alam yang begitu hening ini membuatku lebih dewasa dan menjadikanku orang yang lebih baik. Semoga......

Jogja-Solo, 11 April 2014

Minggu, 06 April 2014

Dari mataku... aku tersipu
Ya..begitulah aku memandangmu setiap bertemu
Terkadang aku terbang menjauh
Karena jika mendekat pun tak bisa rekat
Cukup mendengar renyah sapamu saja membuatku terjaga sepanjang malam
Bukankah ini lucu ?
Mendekat seperti ada sekat..
Menjauh namun rindu selalu kambuh
Kau ini racun macam apa ?
Tentu saja ...cintamu lah sebagai penawarnya

Sang pencipta pilu

Dalam rintik hujan...
Laraku terwakili sepenuhnya
Menggantung..tumpah.. jatuh tiada tertahan
Masih jelas hangat pelukmu
Bisik yang mengelabuhi angin
Percakapan hangat di batas pantai
Sekejap yang membekas
Merayap senyap...membungkam semua yang kelam
Namun sadarku makin nyata
Semakin berada di ujung mata
Hening menjatuhkan tangis dibalut hujan
Tanpa kau tau... hingga musim berubah menjadi kering
Cintaku pun ikut surut
Kau terdengar lugu
Tak ada yang tau kecuali aku
Ternyata kau sang pencipta pilu

29 Februari 2014

Ruang Tunggu Stasiun Tugu

Hari itu...
Sudah hampir gelap. Aku memasuki lorong yang membawaku ke ruang tunggu. Aku duduk sendiri. Riuh..Ramai.. tak ada ketenangan ! Terbayang wajah seseorang yang mengantarku kemari. Tak seharusnya aku disini ..tak seharusnya ! Berkumpul dengan orang-orang yang menunggu kereta dengan berbagai tujuan. Mataku menerawang ke langit-langit berpuing besi. Lalu ke sekumpulan anak kecil yang sibuk berlarian... seperti hidupnya tanpa beban. Berpindah lagi ke segerombolan anak muda dengan tas besarnya.... tapi aku tetap melihat sosok itu lagi ! Sosok yang membawaku kemari. Lalu aku beranjak dari bangku. Kumasuki pintu di ujung stasiun. Aku berkaca .... hina sekali aku hari ini. Tak hanya hari ini, mungkin selamanya. Penyesalan menertawakanku sepanjang perjalanan. Dan aku melihat sosok itu di bias kaca... dia tertawa  "Bodoh..Mau saja kau menjadi mainanku !" Lalu aku berlari keluar. Berjalan menuju peron-peron. Kapan keretaku datang membawaku pergi dari kota terlaknat ini ? Aku hanya ingin pulang. Menangis di hadapan Tuhan. Kuamati lekukan rel yang memanjang berkilo jauhnya. Namun aku melihat sosok itu dengan senyum sinis memandang tajam ke arahku. Kali ini aku berani menatapnya dengan penuh kebencian. Tak seharusnya aku disini...tak seharusnya !!! Di ruang tunggu stasiun tugu... Aku bersumpah di hadapan Tuhan... aku membenci orang itu... tak terkecuali diriku !
Terutama diriku !!!

04 Januari 2014.
Mengingatmu adalah menyisir getir.. memilah rindu
Air mataku kini sebagai gerimis
Tak lagi hujan seperti dulu
Kau adalah satu-satunya kesempatan.. yang diberikan Tuhan pada seorang aku
Agar aku tau bagaimana jika cinta dan benci menjadi satu
Sudah kunikmati luka ini sendiri
Tapi... aku selalu butuh tanganmu untuk menyeka air mataku
Butuh pundakmu untuk sandaran saat aku lelah
Butuh bisikmu agar aku segera bangkit dari hal yang menjatuhkanku
Aku selalu butuh kamu... selalu
Kita dijauhkan oleh keadaan
Bukan karena kemauan
Tak ada yang salah diantara kita bahkan Tuhan
Aku hanya menunggu waktu
Hari dimana kita bertemu
Dan saling mengungkap rindu

09 November 2013

Jumat, 07 Februari 2014

Hijau Mimpi Parjo





Seorang laki-laki berumur sekitar 60 tahun turun dari kereta.Wajahnya tampak bingung melihat sekitar stasiun Gambir yang padat. Tangan kanannya menjinjing tas yang entah berisi apa saja. Dan tangan kirinya sibuk mengelap keringat yang mengucur di dahi. Parjo namanya. Baru pertama kali dia datang ke Jakarta.
Sudah setua ini paling jauh Parjo bepergian ya hanya ke Jogja. Seumur hidup dihabiskannya untuk mengurus kebun sayur depan rumahnya yang terletak di kaki gunung Lawu. Dia lebih suka bersemedi di Pringgodani atau naik ke puncak Lawu, Argodumilah. Maklum saja,dia masih percaya tentang kejawen1) di era globalisasi ini. Pantas badannya masih sangat sehat dibandingkan orang-orang seusianya karena dia sering naik gunung. "Bapak...!" Seorang laki-laki muda melambaikan tangan ke arahnya."Oalah…,Le2) Bagas, aku udah muter-muter ternyata kamu disini."Bagas berlari mendekat dan menyalami tangan ayahnya.Tas bawaan Parjo kini sudah berpindah ke tangan Bagas, anak bungsunya yang sekarang bekerja di salah satu bank swasta di Jakarta. 
Meski Parjo orang desa, tapi dia selalu mengutamakan pendidikan anak-anaknya.Buktinya ketiga anaknya menjadi orang sukses."Kamu sudah beli motor?Kok, ke parkiran?" "Sudah, Pak,meski kredit." Bagas tersenyum ringan. "Wah, ya bagus itu,yang penting jangan lupa bayar dan uangnya halal." Sudah hampir 10 bulan Parjo tidak bertemu anaknya.Parjo bahagia jika anaknya sukses.Bisa membeli semua yang dia inginkan.Parjo sangat bangga kepada anak-anaknya.
***
Jakarta. Macet,banjir, dan panas. Begitulah kesan yang tersirat di kepala saat mendengar kota yang memasuki zona megapolitan itu. Permasalahan Jakarta memang sangat kompleks.Terutama banjir yang tak bosan datang tiap tahun. Tapi Parjo, orang desa yang polos itu justru mulai mengaguminya. Dipandanginya gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.
"Wah,bagus ya, Le gedung-gedungnya.Tau nggak, Le, kata guru SD Bapak, jaman dulu Indonesia itu Atlantis, lho.Hebuat, ya!”kata Parjo dengan girang.
“Ah,Bapak ini,dari aku kecil ceritanya Atlantis terus. Memang buktinya apa, Pak?”gerutu Bagas. “Ah, kamu itu nggak ngerti apa-apa,Le!Di buku Jawa banyak diceritain kayakgitu,”kata Parjo menjelaskan.“Dulu aku juga pernah mimpi lho,Le. Di dalam mimpi juga ada gedung-gedung kayak gini. Tapi semuanya hancur.Jadi gelap.Aneh.Mimpi itu memang aneh.”Bagas tidak menanggapi bapaknya yang mulai ngelantur tidak jelas.
***

Hari ini Bagas mengajak bapaknya berkeliling Jakarta. Monas, kawasan Senayan, Blok M,bahkan mal terbesar di Jakarta juga sudah mereka masuki. Kesalahan Bagas adalah membiarkan bapaknya kagum dengan kota Jakarta yang menyembunyikan seribu kebusukan. Entah pemerintahannya ataupun lingkungannya."Besok ke TMII ya,Le.Bapak pengen banget kesana!" kata Parjo dengan nada khas Jawa."Besok, kan saya kerja, Pak. Lagian Bapak di Jakarta juga masih lama, kan?"Parjo terdiam sebentar."Ya sudah,Le kalau begitu. Oh iya,Le,sayang, ya Jakarta itu panas. Coba udaranya kayak di rumah, Bapak pasti lebih betah lagi disini."
Jakarta beberapa hari ini sedang sepi ditinggal sebagian penghuninya mudik.Jalan menjadi lengang tak seperti biasanya.Tentu saja Parjo yang polos mengira setiap saat Jakarta nyaman seperti sekarang.Padahal jika hari-hari biasa Jakarta ruwetnya minta ampun."Eh, berhenti,Le, berhenti!"Parjo menepuk-nepuk lengan anaknya agar dia menghentikan motornya.Mereka berhenti pada sebuah jembatan.Di bawahnya mengalir air yang keruh dan berwarna coklat.Sampah-sampah mengapung bahkan tersangkut di pagar pembatas menghambat aliran.
Parjo sudah berada di tepi jembatan.Wajahnya tanpa ekspresi.Dipandangnya air sungai dalam-dalam.Sesekali keningnya dikerutkan. Bagas turun dari motor mengikuti bapaknya dan tampak bingung. "Kok bisa, ya sungai sampahnya sampai sebanyak ini.Kasur pun dibuang disini.Bengawan Solo yang airnya juga coklat tapi sampahnya nggak sampai seperti ini."Lalu Parjo terdiam.Dia menundukkan kepala.Matanya dipejamkan erat-erat.Dia terlihat berpikir keras seperti mengingat-ingat sesuatu. "Akeh udan salah mangsa,datangnya masa dimana hujan salah musim."
Lalu dia bergumam lagi... "Ramalan Jayabaya. Gunung-gunung akan meletus, bumi berguncang-guncang, laut dan sungai akan meluap. Ini akan menjadi masa penuh penderitaan. Masa kesewenang-wenangan danketidakpedulian."Sesaat dia diam lagi.Matanya masih terpejam. Lalu... Air matanya menetes. Dia menangis.Seorang laki-laki tua berbadan tegapyang tidak takut apapun itu menangis. Laki-laki tua yang tegar bahkan ketika melihat isterinya dimasukkan ke liang lahat itu menangis. Menangis.Semakin lamasemakin menjadi-jadi."Duh, Gusti aku malu.Aku malu pada diriku sendiri.Aku malu pada anakku. Bahkan pada-Mu, Gusti... Aku malu! Jakarta yang aku kagumi mengapa seperti ini? Tak ada yang peduli lingkungan! Aku malu !" Parjo terus menangis.
Bagas semakin bingung, tidak tahu apa yang terjadi dengan ayahnya. "Mimpi itu ...Jakarta yang akan pertama kali tenggelam.Semua bencana selalu ada sebabnya.Lingkungan ini... hanya mementingkan pembangunan gedung-gedung tinggi perusak itu. Pohon-pohon ditebang,buang sampah sembarangan,asap pabrik... Ini bahaya! Kita harus selamatkan bumi sekarang!"Parjo membuka mata dan mengusap airmata dengan kaos putihnya."Bapak kenapa?"Bagas semakin bingung."Antarkan aku ke kantor gubernur,Le, sekarang!" Parjo menarik tangan anaknya.Parjo ingat.Mimpi dengan gedung-gedung tinggi, kemacetan, banjir, dan kehancuranya adalah Jakarta.
***

Parjo turun dari motor.Anaknya berusaha membujuk bapaknya sepanjang perjalanan,tapi tetap saja dia bersikeras untuk mengadu ke gubernur.Rumah bercat putih itu dijaga oleh beberapa security."Bapak... ayo kita pulang saja.Kita nggak bisa sembarangan masuk!"Bagas berlari menyusul bapaknya."Saya mau bertemu Pak Gubernur. Ini darurat! Saya mohon, Pak!"Pinta Parjo kepada security di depannya. "Pak Gubernur sedang pergi,lebih baik  Bapakdatang lain kali saja!" Parjo tidak menghiraukan pernyataan security itu.Parjo tetap berusaha masuk. "Sudah saya bilang, Pak Gubernur sedang pergi !" kata security yang lain. "Baiklah,saya tidak akan menyerah.Saya akan datang lagi besok."Parjo berbalik arah.Wajahnya terlihat kecewa.Tapi Parjo bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia akan lakukan yang dia bisa untuk mencegah bencana di masa yang akan datang. Parjo tidak akan menyerah!

Hari masih pagi.Namun Bagas sudah harus berangkat bekerja.Parjo sendirian di rumah kontrakan anaknya yang tidak terlalu besar.Disandarkan kepalanya ke tembok. Dia mengingat semua mimpinya yang ia kaitkan dengan ramalan Jayabaya. "Aku harus lakukan sesuatu!"Parjo terperanjat berdiri.Diambilnya beberapa uang dari dompetnya dan keranjang lalu berjalan keluar.

Pasar tanaman. Parjo membeli beberapa bibit pohon dan ia masukkan ke keranjang. "Dimana aku bisa menanam pohon-pohon ini?Kota ini sudah terlalu padat." Parjo berjalan menyusuri kota Jakarta yang tidak pernah ia lewati sebelumnya. Dia mencari lahan kosong.Ya. Lahan kosong di kota yang sungguh padat. Sudah satu jam dia berjalan,akhirnya ditemukannya lahan kosong yang cukup luas. Parjo langsung menanam beberapa bibit pohon tanpa izin pemilik lahan tersebut.Sekali lagi Parjo adalah orang yang sangat-sangat polos."Semoga kau bisa tumbuh dan cepat tinggi."Tiba-tiba seseorang menegurnya dari belakang."Maaf, Pak. Lahan ini akan dibangun ruko.Jangan ditanami!" "Tapi, Pak,Jakarta butuh pohon. Tidak terus menerus dibangun gedung-gedung.""Itu alasan Bapak saja pura-pura menanam pohon.Lama-lama Bapak bangun rumah kardus disini.Lalu semua orang ikut membangun di lahan ini.Jadilah satu RT menjadi pemukiman kumuh.Lalu jika digusur, Bapak minta ganti rugi," kata orang itu panjang lebar.
Parjo bingung."Saya serius!Jakarta bisa tenggelam jika semua penghuninya sepertimu." "Aah … sudahlah,pergi saja!" Orang itu mencabut bibit yang ditanam Parjo dan merusaknya.Parjo menahan emosinya dan memunguti bibit-bibit yang sudah rusak itu lalu pergi.Parjo terus berjalan. Dia berniat untuk datang lagi ke rumah dinasgubernur. Saat diperjalanan, dia melihat seorang penjual makanan di pinggir sungai membuang sampahnya ke sungai.Parjo berlari dan memperingatkan. "Eeeh …, Pak,jangan dibuang ke sungai! Dibuang di TPA.Nuntutnya ke pemerintah nggak mau banjir,tapi buang sampah ke sungai. Kita harus bekerja sama menjaga lingkungan agar...." "Aaah …, pergi sana! Dasar gila!"Orang itu justru menyuruh Parjo pergi."Kalau banjir, ya jangan protes ke pemerintah!"Parjo kesal dengan kelakuan orang-orang yang berbuat seenaknya terhadap lingkungan.Parjo kembali berjalan. Entah sudah berapa orang yang ia tanyai dimana rumah dinas gubernur. Setelah cukup lama berjalan bahkan sempat naik metromini, Parjo sampai juga di depan rumah dinasgubernur. Seperti kemarin,rumah itu dijaga oleh security.Parjo mendekati 2 orang security itu."Maaf,saya ingin bertemu Pak Gubernur!""Pak Gubernur sedang istirahat.Tidak bisa diganggu!" Parjo tidak akan menyerah. Dia tetap menunggu gubernur DKI itu keluar.

katuwane winawas dahat matrenyuh
kenyaming sasmita sayekti
sanityasa tyas malatkunt
kongas welase kepati
sulaking jaman prihatos

Parjo nembang Serat Sabdojati Megatruh Pujangga Ronggowarsito. Yang artinya
"Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin merasakan ramalan tersebut. Senantiasa merenung diri. Melihat zaman penuh keprihatinan tersebut." Tembang yang menceritakan zaman yang penuh keprihatinan ini. Dimana manusia hanya memikirkan materi.

***
Setengah jam sudah Parjo menunggu. Akhirnya mobil berwarna hitam melaju keluar dari gerbang rumah dinas. Parjo yakin itu adalah mobil Pak Gubernur. Parjo berlari dengan membawa keranjangnya. "Pak,tunggu, Pak! Saya ingin membicarakan sesuatu. Ini penting!" Gubernur itu melihatnya lalu menyuruh sopir menghentikan mobil. Lelaki berperawakan kurus itu keluar dari mobil menghampiri Parjo yang terengah-engah seperti kehabisan nafas. "Pak .... Kita harus....bertindak cepat sebelum Jakarta... tenggelam!" kata Parjo berusaha bernafas. "Maksud Bapak?" tanya Gubernur. "Saya tahu bagaimana caranya... supaya Jakarta tidak banjir!" Parjo masih berusaha bernafas. "Sebentar! Bapak tenang dulu,baru bicara." Gubernur itu mempunyai logat yang sama seperti Parjo. Saat Parjo sudah tenang, dia lanjutkan lagi pembicaraan mereka. "Kita harus banyak menanam ini, Pak!" Parjo menunjukkan keranjang yang berisi bibit. "Batasi pembangunan gedung-gedung yang menghambat air masuk ke dalam tanah. Memberi sosialisasi kepada warga untuk menjaga lingkungan dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Perbanyak taman kota juga, Pak! Kita harus lakukan bersama-sama!" Parjo menjelaskan kepada Pak Gubernur seperti guru dengan murid. Tak seperti orang tua kebanyakan yang mulai mengalami demensia di usianya. Parjo masih ingat betul apa yang diajarkan gurunya waktu SD.
Gubernur itu terdiam. Suasana hening sejenak. "Baiklah! Kita akan bentuk panitia khusus penghijauan Jakarta dan Bapak sebagai ketuanya! Bagaimana? Setuju?" Parjo ganti terdiam. Dia tidak menyangka akan mendapat respon positif dari Pak Gubernur. "Tentu saja! Kita akan jadikan Jakarta sebagai urban forest. Memang jika dipikir ini agak mengkhayal. Tapi apa salahnya mencoba.Benar, kan?" "Tapi, Pak... Saya ini hanya lulusan SD,lho. Saya tidak setuju kalau saya... jadi ketua panitia." Parjo tersenyum canggung. "Saya suka dengan semangat Bapak. Dari logat anda,Bapak pasti bukan orang Jakarta asli,tapi semangat Bapak sangat menginspirasi saya."Parjo masih terlihat canggung. "Besok Bapak datang lagi kesini. Saya serius! Bapak mau, kan?" Parjo berpikir lagi. Mengingat dia hanya lulusan SD. Dibanding dengan orang-orang di Jakarta yang berpendidikan tinggi,Parjo tidak ada apa-apanya. Tapi Gubernur itu kagum dengan semangat Parjo yang peduli terhadap lingkungan. Gubernur itu kagum dengan semangat kepedulian Parjo di tengah peradaban manusia yang kian acuh dengan keadaan bumi ini yang kian memburuk.

Keinginan Parjo akhirnya terealisasikan. Parjo menyosialisasikan pentingnya menjaga lingkungan dan warga Jakarta menanggapinya dengan baik. Pembangunan gedung-gedung mulai dibatasi dan pembuatan drainase juga diperbanyak. Berbagai penghargaan lingkungan juga banyak didapatnya. "Dalam hal ini peran masyarakat sangat diperlukan. Tidak hanya menuntut dan mengeluh kepada pemerintah. Kita harus mewujudkan keserasian demi tercapainya tujuan. Agar bumi ini bisa diselamatkan. Dengan melakukan hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya," kata Parjo di salah satu kelurahan di Jakarta.
Sebenarnya sejak awal Parjo lupa bahwa benua Atlantis memang indah tetapi karena Atlantis mengabaikan masalah lingkungan ,benua itu akhirnya hilang. Tenggelam beserta segala keindahannya. Meski dalam pikiran manusia yang terbatas Atlantis tenggelam karena sudah menjadi takdir Tuhan. Ramalan pun juga seperti sebuah peringatan yang diturunkan Tuhan kepada manusia. Banyak yang tidak tahu bahwa tanpa sadar manusia menyetujui takdirnya dengan Tuhan melalui perbuatannya. Perbuatan buruk manusia terhadap lingkungan juga akan menimbulkan dampak buruk pula. Maka marilah kita jaga lingkungan dari sekarang. Mulai dari hal sekecil apapun. Agar bumi ini terhindar dari bahaya. Karena alam akan selalu baik kepada kita,jika kita baik kepada alam. Begitu pula sebaliknya. Ini mutlak.

***
1)kejawen:Pemikiran orang Jawa yang masih sangat kuno. Dan memegang adat istiadat.
2)Le:Sebutan orang Jawa untuk anak laki-laki.

blog