Seorang
laki-laki berumur sekitar 60 tahun turun dari kereta.Wajahnya tampak bingung
melihat sekitar stasiun Gambir yang padat. Tangan kanannya menjinjing tas yang
entah berisi apa saja. Dan tangan kirinya sibuk mengelap keringat yang mengucur
di dahi. Parjo namanya. Baru pertama kali dia datang ke Jakarta.
Sudah
setua ini paling jauh Parjo bepergian ya hanya ke Jogja. Seumur hidup dihabiskannya
untuk mengurus kebun sayur depan rumahnya yang terletak di kaki gunung Lawu.
Dia lebih suka bersemedi di Pringgodani atau naik ke puncak Lawu, Argodumilah.
Maklum saja,dia masih percaya tentang kejawen1)
di era globalisasi ini. Pantas badannya masih sangat sehat dibandingkan
orang-orang seusianya karena dia sering naik gunung. "Bapak...!"
Seorang laki-laki muda melambaikan tangan ke arahnya."Oalah…,Le2) Bagas, aku udah muter-muter ternyata kamu
disini."Bagas berlari mendekat dan menyalami tangan ayahnya.Tas bawaan
Parjo kini sudah berpindah ke tangan Bagas, anak bungsunya yang sekarang
bekerja di salah satu bank swasta di Jakarta.
Meski
Parjo orang desa, tapi dia selalu mengutamakan pendidikan anak-anaknya.Buktinya
ketiga anaknya menjadi orang sukses."Kamu sudah beli motor?Kok, ke
parkiran?" "Sudah, Pak,meski kredit." Bagas tersenyum ringan.
"Wah, ya bagus itu,yang penting jangan lupa bayar dan uangnya halal."
Sudah hampir 10 bulan Parjo tidak bertemu anaknya.Parjo bahagia jika anaknya
sukses.Bisa membeli semua yang dia inginkan.Parjo sangat bangga kepada
anak-anaknya.
***
Jakarta. Macet,banjir, dan panas. Begitulah kesan yang tersirat di
kepala saat mendengar kota yang memasuki zona megapolitan itu. Permasalahan
Jakarta memang sangat kompleks.Terutama banjir yang tak bosan datang tiap
tahun. Tapi Parjo, orang desa yang polos itu justru mulai mengaguminya. Dipandanginya gedung-gedung pencakar
langit yang menjulang tinggi.
"Wah,bagus
ya, Le gedung-gedungnya.Tau nggak, Le, kata guru SD Bapak, jaman dulu
Indonesia itu Atlantis, lho.Hebuat,
ya!”kata Parjo dengan girang.
“Ah,Bapak
ini,dari aku kecil ceritanya Atlantis terus. Memang buktinya apa, Pak?”gerutu
Bagas. “Ah, kamu itu nggak ngerti
apa-apa,Le!Di buku Jawa banyak
diceritain kayakgitu,”kata Parjo
menjelaskan.“Dulu aku juga pernah mimpi lho,Le. Di dalam mimpi juga ada
gedung-gedung kayak gini. Tapi
semuanya hancur.Jadi gelap.Aneh.Mimpi itu memang aneh.”Bagas tidak menanggapi
bapaknya yang mulai ngelantur tidak jelas.
***
Hari
ini Bagas mengajak bapaknya berkeliling Jakarta. Monas, kawasan Senayan, Blok
M,bahkan mal
terbesar di Jakarta juga sudah mereka masuki. Kesalahan Bagas adalah membiarkan
bapaknya kagum dengan kota Jakarta yang menyembunyikan seribu kebusukan. Entah
pemerintahannya ataupun lingkungannya."Besok ke TMII ya,Le.Bapak pengen banget kesana!" kata
Parjo dengan nada khas Jawa."Besok, kan saya kerja, Pak. Lagian Bapak di
Jakarta juga masih lama, kan?"Parjo terdiam sebentar."Ya sudah,Le kalau begitu. Oh iya,Le,sayang, ya Jakarta itu panas. Coba
udaranya kayak di rumah, Bapak pasti lebih
betah lagi disini."
Jakarta
beberapa hari ini sedang sepi ditinggal sebagian penghuninya mudik.Jalan
menjadi lengang tak seperti biasanya.Tentu saja Parjo yang polos mengira setiap
saat Jakarta nyaman seperti sekarang.Padahal jika hari-hari biasa Jakarta
ruwetnya minta ampun."Eh, berhenti,Le,
berhenti!"Parjo menepuk-nepuk lengan anaknya agar dia menghentikan
motornya.Mereka berhenti pada sebuah jembatan.Di bawahnya mengalir air yang
keruh dan berwarna coklat.Sampah-sampah mengapung bahkan tersangkut di pagar
pembatas menghambat aliran.
Parjo
sudah berada di tepi jembatan.Wajahnya tanpa ekspresi.Dipandangnya air sungai
dalam-dalam.Sesekali keningnya dikerutkan. Bagas turun dari motor mengikuti
bapaknya dan tampak bingung. "Kok bisa, ya sungai sampahnya sampai
sebanyak ini.Kasur pun dibuang disini.Bengawan Solo yang airnya juga coklat
tapi sampahnya nggak sampai seperti
ini."Lalu Parjo terdiam.Dia menundukkan kepala.Matanya dipejamkan
erat-erat.Dia terlihat berpikir keras seperti mengingat-ingat sesuatu. "Akeh udan salah mangsa,datangnya masa dimana hujan salah musim."
Lalu dia bergumam lagi... "Ramalan Jayabaya. Gunung-gunung
akan meletus, bumi berguncang-guncang, laut dan sungai akan meluap. Ini akan
menjadi masa penuh penderitaan. Masa kesewenang-wenangan
danketidakpedulian."Sesaat dia diam lagi.Matanya masih terpejam. Lalu...
Air matanya menetes. Dia menangis.Seorang laki-laki tua berbadan tegapyang
tidak takut apapun itu menangis. Laki-laki tua yang tegar bahkan ketika melihat
isterinya dimasukkan ke liang lahat itu menangis. Menangis.Semakin lamasemakin
menjadi-jadi."Duh, Gusti aku malu.Aku malu pada diriku sendiri.Aku malu
pada anakku. Bahkan pada-Mu, Gusti... Aku malu! Jakarta yang aku kagumi mengapa
seperti ini? Tak ada yang peduli lingkungan! Aku malu !"
Parjo terus menangis.
Bagas semakin bingung, tidak tahu apa yang terjadi dengan ayahnya.
"Mimpi itu ...Jakarta yang akan pertama kali tenggelam.Semua bencana
selalu ada sebabnya.Lingkungan ini... hanya mementingkan pembangunan gedung-gedung
tinggi perusak itu. Pohon-pohon ditebang,buang sampah sembarangan,asap
pabrik... Ini bahaya! Kita harus selamatkan bumi sekarang!"Parjo membuka
mata dan mengusap airmata dengan kaos putihnya."Bapak kenapa?"Bagas
semakin bingung."Antarkan aku ke kantor gubernur,Le, sekarang!" Parjo menarik tangan anaknya.Parjo ingat.Mimpi
dengan gedung-gedung tinggi, kemacetan, banjir, dan kehancuranya adalah
Jakarta.
***
Parjo
turun dari motor.Anaknya berusaha membujuk bapaknya sepanjang perjalanan,tapi
tetap saja dia bersikeras untuk mengadu ke gubernur.Rumah bercat putih itu
dijaga oleh beberapa security."Bapak...
ayo kita pulang saja.Kita nggak bisa
sembarangan masuk!"Bagas berlari menyusul bapaknya."Saya mau bertemu Pak
Gubernur. Ini darurat! Saya mohon, Pak!"Pinta Parjo kepada security di depannya. "Pak Gubernur
sedang pergi,lebih baik Bapakdatang lain
kali saja!" Parjo tidak menghiraukan pernyataan security itu.Parjo tetap berusaha masuk. "Sudah saya bilang,
Pak Gubernur sedang pergi !" kata security
yang lain. "Baiklah,saya tidak akan menyerah.Saya akan datang lagi
besok."Parjo berbalik arah.Wajahnya terlihat kecewa.Tapi Parjo bukanlah
orang yang mudah menyerah. Dia akan lakukan yang dia bisa untuk mencegah
bencana di masa yang akan datang. Parjo tidak akan menyerah!
Hari
masih pagi.Namun Bagas sudah harus berangkat bekerja.Parjo sendirian di rumah
kontrakan anaknya yang tidak terlalu besar.Disandarkan kepalanya ke tembok. Dia
mengingat semua mimpinya yang ia kaitkan dengan ramalan Jayabaya. "Aku
harus lakukan sesuatu!"Parjo terperanjat berdiri.Diambilnya beberapa uang
dari dompetnya dan keranjang lalu berjalan keluar.
Pasar
tanaman. Parjo membeli beberapa bibit pohon dan ia masukkan ke keranjang.
"Dimana aku bisa menanam pohon-pohon ini?Kota ini sudah terlalu
padat." Parjo berjalan menyusuri kota Jakarta yang tidak pernah ia lewati
sebelumnya. Dia mencari lahan kosong.Ya. Lahan kosong di kota yang sungguh
padat. Sudah satu jam dia berjalan,akhirnya ditemukannya lahan kosong yang
cukup luas. Parjo langsung menanam beberapa bibit pohon tanpa izin pemilik
lahan tersebut.Sekali lagi Parjo adalah orang yang sangat-sangat
polos."Semoga kau bisa tumbuh dan cepat tinggi."Tiba-tiba seseorang
menegurnya dari belakang."Maaf, Pak. Lahan ini akan dibangun ruko.Jangan
ditanami!" "Tapi, Pak,Jakarta butuh pohon. Tidak terus menerus
dibangun gedung-gedung.""Itu alasan Bapak saja pura-pura menanam
pohon.Lama-lama Bapak bangun rumah kardus disini.Lalu semua orang ikut
membangun di lahan ini.Jadilah satu RT menjadi pemukiman kumuh.Lalu jika
digusur, Bapak minta ganti rugi," kata orang itu panjang lebar.
Parjo
bingung."Saya serius!Jakarta bisa tenggelam jika semua penghuninya
sepertimu." "Aah … sudahlah,pergi saja!" Orang itu mencabut
bibit yang ditanam Parjo dan merusaknya.Parjo menahan emosinya dan memunguti
bibit-bibit yang sudah rusak itu lalu pergi.Parjo terus berjalan. Dia berniat
untuk datang lagi ke rumah dinasgubernur. Saat diperjalanan, dia melihat
seorang penjual makanan di pinggir sungai membuang sampahnya ke sungai.Parjo
berlari dan memperingatkan. "Eeeh …, Pak,jangan dibuang ke sungai! Dibuang
di TPA.Nuntutnya ke pemerintah nggak
mau banjir,tapi buang sampah ke sungai. Kita harus bekerja sama menjaga
lingkungan agar...." "Aaah …, pergi sana! Dasar gila!"Orang itu
justru menyuruh Parjo pergi."Kalau banjir, ya jangan protes ke
pemerintah!"Parjo kesal dengan kelakuan orang-orang yang berbuat seenaknya
terhadap lingkungan.Parjo kembali berjalan. Entah sudah berapa orang yang ia
tanyai dimana rumah dinas gubernur. Setelah cukup lama berjalan bahkan sempat
naik metromini, Parjo sampai juga di depan rumah dinasgubernur. Seperti
kemarin,rumah itu dijaga oleh security.Parjo
mendekati 2 orang security
itu."Maaf,saya ingin bertemu Pak Gubernur!""Pak Gubernur sedang
istirahat.Tidak bisa diganggu!" Parjo tidak akan menyerah. Dia tetap
menunggu gubernur DKI itu keluar.
katuwane winawas
dahat matrenyuh
kenyaming sasmita
sayekti
sanityasa tyas
malatkunt
kongas welase
kepati
sulaking jaman
prihatos
Parjo nembang Serat
Sabdojati Megatruh Pujangga Ronggowarsito. Yang artinya
"Lama
kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin merasakan ramalan tersebut.
Senantiasa merenung diri. Melihat zaman penuh keprihatinan tersebut."
Tembang yang menceritakan zaman yang penuh keprihatinan ini. Dimana manusia
hanya memikirkan materi.
***
Setengah
jam sudah Parjo menunggu. Akhirnya mobil berwarna hitam melaju keluar dari
gerbang rumah dinas. Parjo yakin itu adalah mobil Pak Gubernur. Parjo berlari
dengan membawa keranjangnya. "Pak,tunggu, Pak! Saya ingin membicarakan
sesuatu. Ini penting!" Gubernur itu melihatnya lalu menyuruh sopir
menghentikan mobil. Lelaki berperawakan kurus itu keluar dari mobil menghampiri
Parjo yang terengah-engah seperti kehabisan nafas. "Pak .... Kita
harus....bertindak cepat sebelum Jakarta... tenggelam!" kata Parjo
berusaha bernafas. "Maksud Bapak?" tanya Gubernur. "Saya tahu
bagaimana caranya... supaya Jakarta tidak banjir!" Parjo masih berusaha
bernafas. "Sebentar! Bapak tenang dulu,baru bicara." Gubernur itu
mempunyai logat yang sama seperti Parjo. Saat Parjo sudah tenang, dia lanjutkan
lagi pembicaraan mereka. "Kita harus banyak menanam ini, Pak!" Parjo
menunjukkan keranjang yang berisi bibit. "Batasi pembangunan gedung-gedung
yang menghambat air masuk ke dalam tanah. Memberi sosialisasi kepada warga
untuk menjaga lingkungan dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya.
Perbanyak taman kota juga, Pak! Kita harus lakukan bersama-sama!" Parjo
menjelaskan kepada Pak Gubernur seperti guru dengan murid. Tak seperti orang
tua kebanyakan yang mulai mengalami demensia di usianya. Parjo masih ingat
betul apa yang diajarkan gurunya waktu SD.
Gubernur
itu terdiam. Suasana hening sejenak. "Baiklah! Kita akan bentuk panitia
khusus penghijauan Jakarta dan Bapak sebagai ketuanya! Bagaimana? Setuju?"
Parjo ganti terdiam. Dia tidak menyangka akan mendapat respon positif dari Pak
Gubernur. "Tentu saja! Kita akan jadikan Jakarta sebagai urban forest. Memang jika dipikir ini
agak mengkhayal. Tapi apa salahnya mencoba.Benar, kan?" "Tapi, Pak...
Saya ini hanya lulusan SD,lho. Saya
tidak setuju kalau saya... jadi ketua panitia." Parjo tersenyum canggung.
"Saya suka dengan semangat Bapak. Dari logat anda,Bapak pasti bukan
orang Jakarta asli,tapi semangat Bapak sangat menginspirasi saya."Parjo
masih terlihat canggung. "Besok Bapak datang lagi kesini. Saya serius!
Bapak mau, kan?" Parjo berpikir lagi. Mengingat dia hanya lulusan SD.
Dibanding dengan orang-orang di Jakarta yang berpendidikan tinggi,Parjo tidak ada
apa-apanya. Tapi Gubernur itu kagum dengan semangat Parjo yang peduli terhadap
lingkungan. Gubernur itu kagum dengan semangat kepedulian Parjo di tengah
peradaban manusia yang kian acuh dengan keadaan bumi ini yang kian memburuk.
Keinginan
Parjo akhirnya terealisasikan. Parjo menyosialisasikan pentingnya menjaga
lingkungan dan warga Jakarta menanggapinya dengan baik. Pembangunan
gedung-gedung mulai dibatasi dan pembuatan drainase
juga diperbanyak. Berbagai penghargaan lingkungan juga banyak didapatnya.
"Dalam hal ini peran masyarakat sangat diperlukan. Tidak hanya menuntut
dan mengeluh kepada pemerintah. Kita harus mewujudkan keserasian demi
tercapainya tujuan. Agar bumi ini bisa diselamatkan. Dengan melakukan hal kecil
seperti membuang sampah pada tempatnya," kata Parjo di salah satu
kelurahan di Jakarta.
Sebenarnya sejak awal Parjo lupa bahwa benua Atlantis memang indah
tetapi karena Atlantis mengabaikan masalah lingkungan ,benua itu akhirnya hilang.
Tenggelam beserta segala keindahannya. Meski dalam pikiran manusia yang
terbatas Atlantis tenggelam karena sudah menjadi takdir Tuhan. Ramalan pun juga
seperti sebuah peringatan yang diturunkan Tuhan kepada manusia. Banyak yang
tidak tahu bahwa tanpa sadar manusia menyetujui takdirnya dengan Tuhan melalui
perbuatannya. Perbuatan buruk manusia terhadap lingkungan juga akan menimbulkan
dampak buruk pula. Maka marilah kita jaga lingkungan dari sekarang. Mulai dari
hal sekecil apapun. Agar bumi ini terhindar dari bahaya. Karena alam akan
selalu baik kepada kita,jika kita baik kepada alam. Begitu pula sebaliknya. Ini
mutlak.
***
1)kejawen:Pemikiran orang Jawa yang masih sangat kuno. Dan memegang adat istiadat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar