Jumat, 07 Februari 2014

Hijau Mimpi Parjo





Seorang laki-laki berumur sekitar 60 tahun turun dari kereta.Wajahnya tampak bingung melihat sekitar stasiun Gambir yang padat. Tangan kanannya menjinjing tas yang entah berisi apa saja. Dan tangan kirinya sibuk mengelap keringat yang mengucur di dahi. Parjo namanya. Baru pertama kali dia datang ke Jakarta.
Sudah setua ini paling jauh Parjo bepergian ya hanya ke Jogja. Seumur hidup dihabiskannya untuk mengurus kebun sayur depan rumahnya yang terletak di kaki gunung Lawu. Dia lebih suka bersemedi di Pringgodani atau naik ke puncak Lawu, Argodumilah. Maklum saja,dia masih percaya tentang kejawen1) di era globalisasi ini. Pantas badannya masih sangat sehat dibandingkan orang-orang seusianya karena dia sering naik gunung. "Bapak...!" Seorang laki-laki muda melambaikan tangan ke arahnya."Oalah…,Le2) Bagas, aku udah muter-muter ternyata kamu disini."Bagas berlari mendekat dan menyalami tangan ayahnya.Tas bawaan Parjo kini sudah berpindah ke tangan Bagas, anak bungsunya yang sekarang bekerja di salah satu bank swasta di Jakarta. 
Meski Parjo orang desa, tapi dia selalu mengutamakan pendidikan anak-anaknya.Buktinya ketiga anaknya menjadi orang sukses."Kamu sudah beli motor?Kok, ke parkiran?" "Sudah, Pak,meski kredit." Bagas tersenyum ringan. "Wah, ya bagus itu,yang penting jangan lupa bayar dan uangnya halal." Sudah hampir 10 bulan Parjo tidak bertemu anaknya.Parjo bahagia jika anaknya sukses.Bisa membeli semua yang dia inginkan.Parjo sangat bangga kepada anak-anaknya.
***
Jakarta. Macet,banjir, dan panas. Begitulah kesan yang tersirat di kepala saat mendengar kota yang memasuki zona megapolitan itu. Permasalahan Jakarta memang sangat kompleks.Terutama banjir yang tak bosan datang tiap tahun. Tapi Parjo, orang desa yang polos itu justru mulai mengaguminya. Dipandanginya gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.
"Wah,bagus ya, Le gedung-gedungnya.Tau nggak, Le, kata guru SD Bapak, jaman dulu Indonesia itu Atlantis, lho.Hebuat, ya!”kata Parjo dengan girang.
“Ah,Bapak ini,dari aku kecil ceritanya Atlantis terus. Memang buktinya apa, Pak?”gerutu Bagas. “Ah, kamu itu nggak ngerti apa-apa,Le!Di buku Jawa banyak diceritain kayakgitu,”kata Parjo menjelaskan.“Dulu aku juga pernah mimpi lho,Le. Di dalam mimpi juga ada gedung-gedung kayak gini. Tapi semuanya hancur.Jadi gelap.Aneh.Mimpi itu memang aneh.”Bagas tidak menanggapi bapaknya yang mulai ngelantur tidak jelas.
***

Hari ini Bagas mengajak bapaknya berkeliling Jakarta. Monas, kawasan Senayan, Blok M,bahkan mal terbesar di Jakarta juga sudah mereka masuki. Kesalahan Bagas adalah membiarkan bapaknya kagum dengan kota Jakarta yang menyembunyikan seribu kebusukan. Entah pemerintahannya ataupun lingkungannya."Besok ke TMII ya,Le.Bapak pengen banget kesana!" kata Parjo dengan nada khas Jawa."Besok, kan saya kerja, Pak. Lagian Bapak di Jakarta juga masih lama, kan?"Parjo terdiam sebentar."Ya sudah,Le kalau begitu. Oh iya,Le,sayang, ya Jakarta itu panas. Coba udaranya kayak di rumah, Bapak pasti lebih betah lagi disini."
Jakarta beberapa hari ini sedang sepi ditinggal sebagian penghuninya mudik.Jalan menjadi lengang tak seperti biasanya.Tentu saja Parjo yang polos mengira setiap saat Jakarta nyaman seperti sekarang.Padahal jika hari-hari biasa Jakarta ruwetnya minta ampun."Eh, berhenti,Le, berhenti!"Parjo menepuk-nepuk lengan anaknya agar dia menghentikan motornya.Mereka berhenti pada sebuah jembatan.Di bawahnya mengalir air yang keruh dan berwarna coklat.Sampah-sampah mengapung bahkan tersangkut di pagar pembatas menghambat aliran.
Parjo sudah berada di tepi jembatan.Wajahnya tanpa ekspresi.Dipandangnya air sungai dalam-dalam.Sesekali keningnya dikerutkan. Bagas turun dari motor mengikuti bapaknya dan tampak bingung. "Kok bisa, ya sungai sampahnya sampai sebanyak ini.Kasur pun dibuang disini.Bengawan Solo yang airnya juga coklat tapi sampahnya nggak sampai seperti ini."Lalu Parjo terdiam.Dia menundukkan kepala.Matanya dipejamkan erat-erat.Dia terlihat berpikir keras seperti mengingat-ingat sesuatu. "Akeh udan salah mangsa,datangnya masa dimana hujan salah musim."
Lalu dia bergumam lagi... "Ramalan Jayabaya. Gunung-gunung akan meletus, bumi berguncang-guncang, laut dan sungai akan meluap. Ini akan menjadi masa penuh penderitaan. Masa kesewenang-wenangan danketidakpedulian."Sesaat dia diam lagi.Matanya masih terpejam. Lalu... Air matanya menetes. Dia menangis.Seorang laki-laki tua berbadan tegapyang tidak takut apapun itu menangis. Laki-laki tua yang tegar bahkan ketika melihat isterinya dimasukkan ke liang lahat itu menangis. Menangis.Semakin lamasemakin menjadi-jadi."Duh, Gusti aku malu.Aku malu pada diriku sendiri.Aku malu pada anakku. Bahkan pada-Mu, Gusti... Aku malu! Jakarta yang aku kagumi mengapa seperti ini? Tak ada yang peduli lingkungan! Aku malu !" Parjo terus menangis.
Bagas semakin bingung, tidak tahu apa yang terjadi dengan ayahnya. "Mimpi itu ...Jakarta yang akan pertama kali tenggelam.Semua bencana selalu ada sebabnya.Lingkungan ini... hanya mementingkan pembangunan gedung-gedung tinggi perusak itu. Pohon-pohon ditebang,buang sampah sembarangan,asap pabrik... Ini bahaya! Kita harus selamatkan bumi sekarang!"Parjo membuka mata dan mengusap airmata dengan kaos putihnya."Bapak kenapa?"Bagas semakin bingung."Antarkan aku ke kantor gubernur,Le, sekarang!" Parjo menarik tangan anaknya.Parjo ingat.Mimpi dengan gedung-gedung tinggi, kemacetan, banjir, dan kehancuranya adalah Jakarta.
***

Parjo turun dari motor.Anaknya berusaha membujuk bapaknya sepanjang perjalanan,tapi tetap saja dia bersikeras untuk mengadu ke gubernur.Rumah bercat putih itu dijaga oleh beberapa security."Bapak... ayo kita pulang saja.Kita nggak bisa sembarangan masuk!"Bagas berlari menyusul bapaknya."Saya mau bertemu Pak Gubernur. Ini darurat! Saya mohon, Pak!"Pinta Parjo kepada security di depannya. "Pak Gubernur sedang pergi,lebih baik  Bapakdatang lain kali saja!" Parjo tidak menghiraukan pernyataan security itu.Parjo tetap berusaha masuk. "Sudah saya bilang, Pak Gubernur sedang pergi !" kata security yang lain. "Baiklah,saya tidak akan menyerah.Saya akan datang lagi besok."Parjo berbalik arah.Wajahnya terlihat kecewa.Tapi Parjo bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia akan lakukan yang dia bisa untuk mencegah bencana di masa yang akan datang. Parjo tidak akan menyerah!

Hari masih pagi.Namun Bagas sudah harus berangkat bekerja.Parjo sendirian di rumah kontrakan anaknya yang tidak terlalu besar.Disandarkan kepalanya ke tembok. Dia mengingat semua mimpinya yang ia kaitkan dengan ramalan Jayabaya. "Aku harus lakukan sesuatu!"Parjo terperanjat berdiri.Diambilnya beberapa uang dari dompetnya dan keranjang lalu berjalan keluar.

Pasar tanaman. Parjo membeli beberapa bibit pohon dan ia masukkan ke keranjang. "Dimana aku bisa menanam pohon-pohon ini?Kota ini sudah terlalu padat." Parjo berjalan menyusuri kota Jakarta yang tidak pernah ia lewati sebelumnya. Dia mencari lahan kosong.Ya. Lahan kosong di kota yang sungguh padat. Sudah satu jam dia berjalan,akhirnya ditemukannya lahan kosong yang cukup luas. Parjo langsung menanam beberapa bibit pohon tanpa izin pemilik lahan tersebut.Sekali lagi Parjo adalah orang yang sangat-sangat polos."Semoga kau bisa tumbuh dan cepat tinggi."Tiba-tiba seseorang menegurnya dari belakang."Maaf, Pak. Lahan ini akan dibangun ruko.Jangan ditanami!" "Tapi, Pak,Jakarta butuh pohon. Tidak terus menerus dibangun gedung-gedung.""Itu alasan Bapak saja pura-pura menanam pohon.Lama-lama Bapak bangun rumah kardus disini.Lalu semua orang ikut membangun di lahan ini.Jadilah satu RT menjadi pemukiman kumuh.Lalu jika digusur, Bapak minta ganti rugi," kata orang itu panjang lebar.
Parjo bingung."Saya serius!Jakarta bisa tenggelam jika semua penghuninya sepertimu." "Aah … sudahlah,pergi saja!" Orang itu mencabut bibit yang ditanam Parjo dan merusaknya.Parjo menahan emosinya dan memunguti bibit-bibit yang sudah rusak itu lalu pergi.Parjo terus berjalan. Dia berniat untuk datang lagi ke rumah dinasgubernur. Saat diperjalanan, dia melihat seorang penjual makanan di pinggir sungai membuang sampahnya ke sungai.Parjo berlari dan memperingatkan. "Eeeh …, Pak,jangan dibuang ke sungai! Dibuang di TPA.Nuntutnya ke pemerintah nggak mau banjir,tapi buang sampah ke sungai. Kita harus bekerja sama menjaga lingkungan agar...." "Aaah …, pergi sana! Dasar gila!"Orang itu justru menyuruh Parjo pergi."Kalau banjir, ya jangan protes ke pemerintah!"Parjo kesal dengan kelakuan orang-orang yang berbuat seenaknya terhadap lingkungan.Parjo kembali berjalan. Entah sudah berapa orang yang ia tanyai dimana rumah dinas gubernur. Setelah cukup lama berjalan bahkan sempat naik metromini, Parjo sampai juga di depan rumah dinasgubernur. Seperti kemarin,rumah itu dijaga oleh security.Parjo mendekati 2 orang security itu."Maaf,saya ingin bertemu Pak Gubernur!""Pak Gubernur sedang istirahat.Tidak bisa diganggu!" Parjo tidak akan menyerah. Dia tetap menunggu gubernur DKI itu keluar.

katuwane winawas dahat matrenyuh
kenyaming sasmita sayekti
sanityasa tyas malatkunt
kongas welase kepati
sulaking jaman prihatos

Parjo nembang Serat Sabdojati Megatruh Pujangga Ronggowarsito. Yang artinya
"Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin merasakan ramalan tersebut. Senantiasa merenung diri. Melihat zaman penuh keprihatinan tersebut." Tembang yang menceritakan zaman yang penuh keprihatinan ini. Dimana manusia hanya memikirkan materi.

***
Setengah jam sudah Parjo menunggu. Akhirnya mobil berwarna hitam melaju keluar dari gerbang rumah dinas. Parjo yakin itu adalah mobil Pak Gubernur. Parjo berlari dengan membawa keranjangnya. "Pak,tunggu, Pak! Saya ingin membicarakan sesuatu. Ini penting!" Gubernur itu melihatnya lalu menyuruh sopir menghentikan mobil. Lelaki berperawakan kurus itu keluar dari mobil menghampiri Parjo yang terengah-engah seperti kehabisan nafas. "Pak .... Kita harus....bertindak cepat sebelum Jakarta... tenggelam!" kata Parjo berusaha bernafas. "Maksud Bapak?" tanya Gubernur. "Saya tahu bagaimana caranya... supaya Jakarta tidak banjir!" Parjo masih berusaha bernafas. "Sebentar! Bapak tenang dulu,baru bicara." Gubernur itu mempunyai logat yang sama seperti Parjo. Saat Parjo sudah tenang, dia lanjutkan lagi pembicaraan mereka. "Kita harus banyak menanam ini, Pak!" Parjo menunjukkan keranjang yang berisi bibit. "Batasi pembangunan gedung-gedung yang menghambat air masuk ke dalam tanah. Memberi sosialisasi kepada warga untuk menjaga lingkungan dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Perbanyak taman kota juga, Pak! Kita harus lakukan bersama-sama!" Parjo menjelaskan kepada Pak Gubernur seperti guru dengan murid. Tak seperti orang tua kebanyakan yang mulai mengalami demensia di usianya. Parjo masih ingat betul apa yang diajarkan gurunya waktu SD.
Gubernur itu terdiam. Suasana hening sejenak. "Baiklah! Kita akan bentuk panitia khusus penghijauan Jakarta dan Bapak sebagai ketuanya! Bagaimana? Setuju?" Parjo ganti terdiam. Dia tidak menyangka akan mendapat respon positif dari Pak Gubernur. "Tentu saja! Kita akan jadikan Jakarta sebagai urban forest. Memang jika dipikir ini agak mengkhayal. Tapi apa salahnya mencoba.Benar, kan?" "Tapi, Pak... Saya ini hanya lulusan SD,lho. Saya tidak setuju kalau saya... jadi ketua panitia." Parjo tersenyum canggung. "Saya suka dengan semangat Bapak. Dari logat anda,Bapak pasti bukan orang Jakarta asli,tapi semangat Bapak sangat menginspirasi saya."Parjo masih terlihat canggung. "Besok Bapak datang lagi kesini. Saya serius! Bapak mau, kan?" Parjo berpikir lagi. Mengingat dia hanya lulusan SD. Dibanding dengan orang-orang di Jakarta yang berpendidikan tinggi,Parjo tidak ada apa-apanya. Tapi Gubernur itu kagum dengan semangat Parjo yang peduli terhadap lingkungan. Gubernur itu kagum dengan semangat kepedulian Parjo di tengah peradaban manusia yang kian acuh dengan keadaan bumi ini yang kian memburuk.

Keinginan Parjo akhirnya terealisasikan. Parjo menyosialisasikan pentingnya menjaga lingkungan dan warga Jakarta menanggapinya dengan baik. Pembangunan gedung-gedung mulai dibatasi dan pembuatan drainase juga diperbanyak. Berbagai penghargaan lingkungan juga banyak didapatnya. "Dalam hal ini peran masyarakat sangat diperlukan. Tidak hanya menuntut dan mengeluh kepada pemerintah. Kita harus mewujudkan keserasian demi tercapainya tujuan. Agar bumi ini bisa diselamatkan. Dengan melakukan hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya," kata Parjo di salah satu kelurahan di Jakarta.
Sebenarnya sejak awal Parjo lupa bahwa benua Atlantis memang indah tetapi karena Atlantis mengabaikan masalah lingkungan ,benua itu akhirnya hilang. Tenggelam beserta segala keindahannya. Meski dalam pikiran manusia yang terbatas Atlantis tenggelam karena sudah menjadi takdir Tuhan. Ramalan pun juga seperti sebuah peringatan yang diturunkan Tuhan kepada manusia. Banyak yang tidak tahu bahwa tanpa sadar manusia menyetujui takdirnya dengan Tuhan melalui perbuatannya. Perbuatan buruk manusia terhadap lingkungan juga akan menimbulkan dampak buruk pula. Maka marilah kita jaga lingkungan dari sekarang. Mulai dari hal sekecil apapun. Agar bumi ini terhindar dari bahaya. Karena alam akan selalu baik kepada kita,jika kita baik kepada alam. Begitu pula sebaliknya. Ini mutlak.

***
1)kejawen:Pemikiran orang Jawa yang masih sangat kuno. Dan memegang adat istiadat.
2)Le:Sebutan orang Jawa untuk anak laki-laki.

blog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar