Jumat, 11 April 2014

Cerita untuk Risa



Tak hanya kamu ,Risa. Aku kini juga berada di alam Sunyaruri. Alam kekosongan. Sendirian itu menyenangkan. Tapi jika terlalu lama sendiri itu bisa berubah menjadi kesepian. Semuanya yang ku inginkan sudah Tuhan wujudkan untuk aku. Termasuk kuliah di kota ini. Tapi aku selalu ingin kembali ke masa dimana aku selalu semangat bangun pagi untuk bertemu dengan teman-temanku. Seberat apapun bebanku dulu..aku selalu senang menjalaninya. Tapi kini teman-temanku sedang mengejar mimpinya masing-masing. Aku merasa kehilangan. Tapi Risa... hidup tanpa mereka bukan berarti aku tak punya teman baru. Di kota tempat aku tinggal sekarang membuatku berkenalan dengan banyak orang. Tak semuanya buruk Risa... diantaranya baik padaku. Tapi mengapa aku tetap merasa kesepian? Aku pikir aku tak hanya kehilangan teman-temanku.Aku kehilangan sesuatu yang tak bisa diungkapkan. Yang aku sendiri tak tau mengapa aku begitu sedih saat menyadari semuanya.Dan parahnya lagi Risa... muncul banyak orang baru dalam hidupku yang memperburuk keadaan. Aku pikir tadinya orang ini bisa membuatku tak kesepian lagi. Dan dia berkata bahwa dia akan menyayangiku. Aku lupa Risa jika dari awal dia hanya mencoba menyayangiku. Hanya mencoba. Dan aku sudah terlanjur menyayanginya terlebih dahulu. Aku lupa bahwa ini Cuma perjanjian. Konyol sekali bukan. Dan saat dia meninggalkanku... aku menjadi lebih kosong dari sebelumnya. Jujur Risa ...aku hanya butuh seseorang untuk mendengar keluh kesahku tanpa memojokan aku. Tak peduli entah itu laki-laki atau perempuan. Aku hanya butuh teman bicara Risa ! Sangat butuh. Aku melupakan masa depanku. Semuanya meredup. Tak ada lagi semangat seperti dulu. Aku sendiri tak tau sampai kapan aku akan terus seperti ini ? Menjauh dan menjadi orang lain yang sama sekali bukan aku. Ini sangat menyiksa. Aku ingin pulang. Tapi setiap aku pulang ke rumah aku tak merasa puas. Mungkin maksudku aku ingin pulang ke rumah Tuhan. Tapi tidak Risa...aku bukan orang yang sebodoh itu ! Aku selalu mengingat orang tuaku yang membutuhkanku. Aku pikir aku belum cukup membahagiakan orang tuaku dengan hanya duduk di bangku kuliah tanpa gelar sarjana. Aku yakin orang tuaku ingin melihatku memakai toga. Melihatku bekerja. Melihatku menikah dengan orang yang menyayangiku. Menemani hari-hari tuanya. Tapi bagaimana bisa aku seperti ini setiap hari ? Sedangkan orang tuaku sangat berharap pada seorang aku yang pengecut. Aku bersyukur masih ada teman yang selalu mengajaku makan bersama tanpa aku harus makan sendirian. Yakinlah Risa... makan seenak apapun jika sendirian itu menjadi biasa saja. Tapi... tak hanya makan,aku butuh seseorang yang menemaniku melihat pertunjukan tari, menonton konser band indie, dan teater. Kota ini sangat indah di malam hari. Banyak yang bisa dikunjungi Risa. Semoga aku cepat bertemu dengan orang yang bisa menemaniku melakukan hal-hal yang tak hanya aku sukai tapi juga dia.. Bicara soal teman... sepertinya menyenangkan berteman dengan makhluk selain manusia. Membaca bukumu membuatku berpikir hal-hal yang selama ini kutakuti. Kau bilang... mereka hanya butuh di dengar bukan ? Aku ingin sekali bertemu teman-temanmu juga. Tapi Risa...aku selalu takut menatap mata mereka yang dingin. Namun dari bukumu membuatku sadar..bahwa mereka bukan untuk ditakuti. Sosok Ain ,Mara dan Dara yang lucu dan polos. Aku ingin mempunyai teman-teman kecil sepertimu. Yang saat kau tumbuh dewasa mereka tak ikut tumbuh bersamamu, mereka tetap saja kecil dan menggemaskan. Andai saja aku mempunyai keberanian mengajak mereka bicara sepertimu. Kau hebat Risa ! Semoga teman-temanmu cepat kembali ya Risa. Agar kau tak kesepian sepertiku. Juga aku. Semoga akan segera kutemukan seseorang yang membawaku keluar dari alam Sunyaruri yang menyiksa ini. Perjalananku sungguh masih panjang Risa... Aku harus kembali semangat mewujudkan mimpi-mimpiku. Semoga alam yang begitu hening ini membuatku lebih dewasa dan menjadikanku orang yang lebih baik. Semoga......

Jogja-Solo, 11 April 2014

Minggu, 06 April 2014

Dari mataku... aku tersipu
Ya..begitulah aku memandangmu setiap bertemu
Terkadang aku terbang menjauh
Karena jika mendekat pun tak bisa rekat
Cukup mendengar renyah sapamu saja membuatku terjaga sepanjang malam
Bukankah ini lucu ?
Mendekat seperti ada sekat..
Menjauh namun rindu selalu kambuh
Kau ini racun macam apa ?
Tentu saja ...cintamu lah sebagai penawarnya

Sang pencipta pilu

Dalam rintik hujan...
Laraku terwakili sepenuhnya
Menggantung..tumpah.. jatuh tiada tertahan
Masih jelas hangat pelukmu
Bisik yang mengelabuhi angin
Percakapan hangat di batas pantai
Sekejap yang membekas
Merayap senyap...membungkam semua yang kelam
Namun sadarku makin nyata
Semakin berada di ujung mata
Hening menjatuhkan tangis dibalut hujan
Tanpa kau tau... hingga musim berubah menjadi kering
Cintaku pun ikut surut
Kau terdengar lugu
Tak ada yang tau kecuali aku
Ternyata kau sang pencipta pilu

29 Februari 2014

Ruang Tunggu Stasiun Tugu

Hari itu...
Sudah hampir gelap. Aku memasuki lorong yang membawaku ke ruang tunggu. Aku duduk sendiri. Riuh..Ramai.. tak ada ketenangan ! Terbayang wajah seseorang yang mengantarku kemari. Tak seharusnya aku disini ..tak seharusnya ! Berkumpul dengan orang-orang yang menunggu kereta dengan berbagai tujuan. Mataku menerawang ke langit-langit berpuing besi. Lalu ke sekumpulan anak kecil yang sibuk berlarian... seperti hidupnya tanpa beban. Berpindah lagi ke segerombolan anak muda dengan tas besarnya.... tapi aku tetap melihat sosok itu lagi ! Sosok yang membawaku kemari. Lalu aku beranjak dari bangku. Kumasuki pintu di ujung stasiun. Aku berkaca .... hina sekali aku hari ini. Tak hanya hari ini, mungkin selamanya. Penyesalan menertawakanku sepanjang perjalanan. Dan aku melihat sosok itu di bias kaca... dia tertawa  "Bodoh..Mau saja kau menjadi mainanku !" Lalu aku berlari keluar. Berjalan menuju peron-peron. Kapan keretaku datang membawaku pergi dari kota terlaknat ini ? Aku hanya ingin pulang. Menangis di hadapan Tuhan. Kuamati lekukan rel yang memanjang berkilo jauhnya. Namun aku melihat sosok itu dengan senyum sinis memandang tajam ke arahku. Kali ini aku berani menatapnya dengan penuh kebencian. Tak seharusnya aku disini...tak seharusnya !!! Di ruang tunggu stasiun tugu... Aku bersumpah di hadapan Tuhan... aku membenci orang itu... tak terkecuali diriku !
Terutama diriku !!!

04 Januari 2014.
Mengingatmu adalah menyisir getir.. memilah rindu
Air mataku kini sebagai gerimis
Tak lagi hujan seperti dulu
Kau adalah satu-satunya kesempatan.. yang diberikan Tuhan pada seorang aku
Agar aku tau bagaimana jika cinta dan benci menjadi satu
Sudah kunikmati luka ini sendiri
Tapi... aku selalu butuh tanganmu untuk menyeka air mataku
Butuh pundakmu untuk sandaran saat aku lelah
Butuh bisikmu agar aku segera bangkit dari hal yang menjatuhkanku
Aku selalu butuh kamu... selalu
Kita dijauhkan oleh keadaan
Bukan karena kemauan
Tak ada yang salah diantara kita bahkan Tuhan
Aku hanya menunggu waktu
Hari dimana kita bertemu
Dan saling mengungkap rindu

09 November 2013