Rabu, 06 Agustus 2014

Surat untuk Tuhan !



Dunia tak lagi sama



Hidup ini menjadi asing



Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutau



Aku galau untuk sesuatu yang tak ada



Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu yang bisa menjadi sebab tapi tak kutemukan apa-apa



Pada saat yang sama..seluruh sel dalam tubuhku berkata lain



Mereka tahu sesuatu yang tak bisa digapai pikiran



Apa rasanya ....jika tubuhmu sendiri menyimpan rahasia darimu ?



Dee- Rectoverso


 

Satu tahun yang lalu.... kuputuskan untuk melanjutkan kuliah di luar kota. Jauh di dalam hatiku aku tidak mau tinggal sendirian Tuhan. Tidak mau ! Aku tetap ingin tinggal di rumah bersama keluargaku. Dari awal ,aku memang bukan anak yang baik untuk keluargaku. Diantara saudaraku aku lah yang paling bebal. Entah mengapa aku mengalami kesusahan mengungkapkan emosiku sendiri. Aku susah mengungkapkan rasa sayangku pada orang lain bahkan keluargaku. Mungkin ini alasanya mengapa mereka menganggapku orang yang paling tidak peka. Bukanya tidak peka... aku hanya tidak tau bagaimana mengungkapkan perasaanku. Aku memang aneh !
                Awal kuliah diluar kota sendirian memang bukan perkara mudah. Aku menemui banyak hal baru. Segalanya terasa asing. Ini salah satu fase tersulit dalam hidupku. Di Jogja..tempat dimana aku kuliah ,aku tidak hanya belajar tentang ilmu, tapi yang tersulit adalah belajar hidup. Bagaimana jauh dari orang tua... berada di ruangan 3x3m ,dan yang paling menyebalkan adalah beradaptasi. Aku benci adaptasi dengan lingkungan baru. Tapi aku bersyukur kau memberiku teman-teman yang baik Tuhan. Aku juga sangat menyukai kampusku. Meski tak jarang aku bertemu orang yang bermaksud tidak baik padaku. Aku takut.. tapi bagaimana lagi ?! aku benci saat sendirian, aku selalu ingin pulang ke rumah, berkumpul bersama ayah, ibu dan kedua saudaraku. Aku tidak pernah menceritakan segala kesedihanku disini. Aku hanya tidak mau membuat keluargaku khawatir. Aku selalu bercerita bahwa aku bahagia, menceritakan teman-temanku yang menyenangkan, yang selalu mengajaku makan dan jalan-jalan bersama. Tapi sepertinya.... mereka salah paham. Mereka pikir ..aku hanya bersenang-senang saja di Jogja dan tidak fokus kuliah. Di dalam pikiran keluargaku tertanam bahwa aku ini anak yang buruk. Yang tidak pernah serius sekolah, yang berkumpul dengan orang-orang yang buruk ,dan selalu merepotkan. Ayah dan ibuku adalah orang yang baik, bagaimana bisa aku melakukan hal yang tidak pantas seperti merokok, bermain dengan orang-orang bertabiat buruk, dan melakukan perbuatan yang tidak seharusnya. Sedikitpun tak pernah terpikirkan Tuhan... Tidak pernah !
                Tujuanku kuliah disini tidak hanya menuntut ilmu, tapi bagaimana setelah aku lulus dan menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain. Tapi Tuhan.... Orang tuaku terlalu menuntut lebih dariku. Satu tahun ini aku hanya perlu beradaptasi, mengenal kehidupan baruku. Tidak mudah Tuhan... sungguh ! Orang tuaku selalu menyalahkan... tapi mereka lupa aku juga butuh didengar. Aku hanya butuh didengar Tuhaaaan !! Aku benci jika mereka menyalahkanku...mengapa kuliah di luar kota membuatku berubah menjadi orang yang lebih buruk dan masih saja bebal.               
Tuhan.... sekali saja aku ingin dimengerti. Bisakah ayah dan ibuku mendengarkanku ? Aku tidak bahagia hidup disini Tuhan... aku hanya ingin di rumah. Tapi bagaimana bisa pulang ke rumah saat keluargaku mulai merasa asing padaku ? Bagaimana bisa rumah sendiri menjadi tidak nyaman ? Lalu ...aku harus pulang kemana Tuhan ? Saat aku memutuskan untuk pulang ke rumah 3 minggu sekali justru mereka mengira aku hanya ingin melarikan diri dari pekerjaan rumah dan bersenang senang di Jogja dengan temanku. Entah kenapa mereka selalu berpikir buruk ? Aku merasa sangat sedih Tuhan. Aku ini harus bagaimana ?
                Aku terlalu sombong memendam segala kesedihanku sendirian. Menghadapi kenyataan bahwa aku mendapat tekanan dari manapun dan aku tidak sekuat itu. Aku butuh seseorang untuk mendengarkanku. Aku selalu berdoa... semoga aku bisa menjadi apa yang orang tuaku inginkan. Entah bagaimanapun caranya. Untuk ibuku... yakinlah... aku tidak akan berubah menjadi lebih buruk. Aku ini tetap anak ibu yang mungkin masih saja bebal dan pasti bisa menjadi lebih baik ! Aku berjanji suatu saat kalian akan bangga padaku. Aku janji akan menjadi pribadi yang baik. Tapi tidak sekarang.... semuanya butuh proses. Biarkan aku beradaptasi dengan duniaku sekarang. Ini tidak mudah Bu...sungguh!!
Aku masih saja menyimpan segala ketakutanku sendirian. Tuhan..Karena keluargaku tidak bisa mengerti aku... semoga aku bisa menghadapinya sendiri. Sesulit apapun....Aku tau kau selalu bersamaku Tuhan. Bukan bermaksud menghinamu dengan ketakutanku ini. Maafkan segala kesalahanku Tuhan......

Kamis, 17 Juli 2014

Rindu ini ingin bertemu


Rindu ini hanya membutuhkan kamu kembali ke hidupku...
Dimana semuanya terasa indah sekalipun harus menangis.
Tak apa selama ada kamu..
Aku mengandalkan tanganmu untuk mengusap air mataku.
Rindu ini menggelayuti hatiku.
Ingin sekali kutanggalkan agar aku bisa berjalan maju.
Perpisahan selalu membuatku takut akan pertemuan.
Keduanya selalu berjalan beriringan.  
Setidaknya jika kita berpisah... kita masih berada di bawah langit yang sama..
Semua ini hanya masalah jarak...
Dan waktu yang akan mengembalikanmu padaku... atau menggantinya dengan yang baru
Sampai jumpa lagi cinta...
Senang bertemu denganmu !
Dan sebuah duka melihatmu berlalu...

Selasa, 10 Juni 2014

Menggarami Luka

Ini menyedihkan...
Berada di ruangan kecil
Segala yang tak hidup kupaksa mendengar
Aku menyerupai orang yang kehilangan akal
Jalanku dihadang ketidakpastian
Harapanku diterbangkan..lalu dihempaskan
Tersangkut pada duri-duri yang melumpuhkan
Kau tau ..Aku sangat bersahabat dengan penantian
Ini salah satu keahlianku...keahlian bodoh yang kupelihara !
Seperti melawan badai dan memaksa bertahan

Ini menyedihkan...
Menertawakan air mata yang terlanjur mengalir
Menangisi segala kenangan manis yang sengaja diukir
Mengutuk setiap kepergian
Menyambut setiap yang datang, melupakan setiap trauma perpisahan
Lalu kecewa...
Setiap kisahku selalu berakhir sama
Aku harus menjadi hakim dari kesalahan yang kubuat sendiri

Ini menyedihkan...
Aku mulai lelah memulai kisah
Biarkan aku bernafas tanpa harus merasa tercekat
Melepas setiap rantai nama yang seakan menolak untuk dilupakan
Biarkan waktu yang membawaku berlabuh...dan membuatku kembali utuh
Memutus segala kesedihan yang terpendam
Karena dalam setiap perjalanan akan mengukir nama dan cerita baru
Yang hanya menggarami lukaku

Tuhan...Ini sungguh menyedihkan !

Jogja, 10 Juni 2014
Ruang 201 ,Fakultas Filsafat